The Shack

28 Apr 2011

the-shack1Mendekati momen paskah kemarin, saya menyempatkan membaca salah satu novel fiksi rohani yang sudah sejak dulu direkomendasikan oleh teman sekaligus seseorang yang secara rohani lebih senior dari saya, semacam kakak rohani gitu (tapi bukan mentor saya pribadi). Judulnya The Shack dan buku ini pernah menjadi no.1 dalam New York Times Bestseller. Sebenarnya,saya tidak berencana membuat review tentang buku ini di mymilkyway,tapi setelah membaca lembar terakhir dan mengulas kembali apa saja yang telah saya dapat dari buku ini, mau tidak mau saya tergerak untuk menuliskannya. Lima bintang untuk isinya, namun tiga bintang untuk gaya penulisannya dan penerjemahannya (saya tidak nyaman dengan kata engkau dan kemandirian).

Setiap manusia tentunya mengalami pergumulan batinnya sendiri, dan setiap hati pasti pernah tersakiti. Entah yang bersangkutan merasakannya atau sudah menguburnya dalam kepahitan dan menghindari bagian itu disentuh. Tokoh utama dalam buku ini, Mack, adalah orang yang memilih untuk menghindari luka hatinya. Mack, adalah lulusan sekolah alkitab,namun ia tidak berprofesi sebagai seorang pastor. Di usianya yang ke-13 tahun, ia tidak tahan dengan perlakuan ayahnya yang meski seorang majelis gereja, suka mabuk-mabukan dan melakukan KDRT. Sebelum ia memutuskan kabur dari rumah,ia meracuni semua botol alcohol yang ada di rumahnya. Setelah bertahun-tahun merantau, ia kembali ke kampung halamannya, menikah dan membangun sebuah keluarga yang bahagia. Mack merasa sangat bersyukur akan kehidupannya, ia merasa penuh. Suatu musim panas, ia dan anak-anaknya memutuskan untuk kemping di tepi danau, sekitar tiga jam perjalanan darat dari rumahnya. Kesenangan dalam kemping musim panas itu berakhir dengan kengerian, ketika putri bungsunya, Missy diculik seorang penculik dan pembunuh gadis2 kecil. Tubuh Missy tak pernah ditemukan, hanya gaunnya yang bernoda darah ditemukan dalam sebuah gubuk. Mack dan keluarganya sangat terpukul dengan kejadian ini, bahkan Mack menyalahkan dirinya sendiri serta Tuhan, menganggapNya begitu kejam karena bahkan ia tak diijinkan memakamkan putrinya dengan layak. Kejadian itu mengubah Mack, luka hatinya dipendamnya dalam-dalam dan tak diijinkannya seorang pun menyentuh kesedihan besarnya. Tiga tahun berlalu, dan di suatu musim salju, Mack menerima surat dari Papa,mengundangnya ke gubuk itu akhir minggu depan. Dalam kegundahannya, Mack memutuskan untuk mengakhiri permainan murahan siapapun yang telah mengiriimkan surat itu padanya. Namun,apa yang ia jumpai di gubuk itu mengubahnya selamanya. Alih-alih bertemu si pembunuh, ia bertemu seorang wanita kulit hitam yang menyebut dirinya Papa. Siapakah Papa? Apa yang sebenarnya sedang dihadapi Mack? Siapa wanita itu? Bagaimana Mack mampu keluar dari kesedihan besarnya? Kenapa jika Tuhan itu mengasihi umatnya, Tuhan membiarkan kejahatan terjadi pada umatNya?

Dalam novel yang sekarang mulai difilmkan ini, sebagian besar adalah berisikan proses penyembuhan luka hati Mack. Jangan khawatir, pembaca TIDAK akan menemukan proses penyembuhan itu berupa proses berdoa setiap waktu sepanjang 3 hari sambil bercucuran air mata dalam sebuah kamar, kok. Alih-alih, Mack akan bertualang. Dialog-dialog yang ada didalamnya memang cukup berat sehingga saya di beberapa bagian saya harus membaca berulang-ulang sebelum bisa mencernanya maksud seutuhnya. Karakter Mack,sangat menyentuh saya karena saya akui saya termasuk tipe yang cenderung menutup luka begitu saja tanpa meyakinkan diri saya apakah luka itu sudah sembuh atau belum. Kesedihan Mack karena kehilangan darah dagingnya karena penculikan dan pembunuhan sadis itu menambah pelik luka hatinya di masa lalu. Tak hanya penulis berhasil menceritakan peliknya hati dan pikiran dari seorang manusia yang terluka dan tersesat, dalam buku ini penulis juga berhasil menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan analogi yang baik. Pada bagian awal, mungkin pembaca akan sedikit tidak nyaman dengan analogi itu, namun jangan berhenti karena pada sepanjang buku itu nantinya pembaca akan dituntun selangkah demi selangkah memahami mengapa penulis memilih analogi seperti itu. Tak hanya konsep tritunggal yang akan ditemui pembaca disini, namun juga konsep mengenai penghakiman, mengenai kasih, dan mengenai pengampunan.

Seandainya kita adalah Mack, tentu tidak mudah untuk menyembuhkan luka hati. Tidak cukup satu kalimat, dua kalimat sebagaimana yang kita sering dengar dalam Kebaktian Kebangunan Rohani. Tidak cukup pula rasanya mendengarkan khotbah dibalik segala kejadian buruk yang menimpa, pasti ada rencana indah yang Tuhan siapkan. Ada sesuatu yang lebih yang kita butuhkan. Saya juga diingatkan lagi akan hukum absolut,yaitu untuk membersihkan sesuatu yang kotor, kita terlebih dahulu harus menemukan dimana dan seperti apa kotoran yang ada itu. Dan buku ini, buat saya, menjawab petanyaan-pertanyaan itu, lewat karakter Mack, yang luka hatinya sebegitu dalamnya. Tahukah anda, seseorang yang saya sebut merekomendasikan buku ini, kehilangan istrinya karena kecelakaan motor yang mengerikan dimana dia yang mengemudikan motornya, hanya dua bulan setelah pernikahan mereka.

Judul: The Shack

Penulis: William P. Young

Penerbit: Penerbit Andi / 2009

Tebal: 391hlm.

My rating: 4 of 5 stars

catatan: judul tidak diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia.


TAGS Andi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post