Dunsa

11 Dec 2011

317470_206412952764854_110835005655983_492119_1305564677_nSuka dengan novel petualangan di dunia yang penuh keajaiban, dengan dibumbui romansa anak muda? Barangkali DUNSA ini bisa menjadi salah satu pilihan yang cukup memuaskan. Bergenre fantasi, buat saya menyimak petualangan DUNSA di dunia PRUTOPIAN memberikan sensasi petualangan yang tidak kalah dari novel fantasi terjemahan. Ups. Sudahkah saya bilang kalau ini novel fantasi karya anak negeri? Yup, ini karya Indonesia. Dan menurut saya ini bisa jadi karya yang potensial dengan dukungan dari pembaca Indonesia. Siap-siap ya baca review ini, karena agak panjang.

Merphilia Dunsa, adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang hidup bersama bibinya di Tirai Banir, wilayah terpencil dan terasing di kerajaan Naraniscala. Naraniscala adalah salah satu dari empat negeri besar di dunia PRUTOPIAN. Negeri lainnya adalah Fatacetta, Delmorania, dan Ciracindaga. Di Tirai Banir, Merphilia Dunsa tak mengenal seorangpun dan pehubungnya dengan dunia luar hanyalah buku-bukunya. Sampai suatu ketika, dua orang Zauberei (kaum penyihir Prutopian) bertandang ke rumahnya. Zauberei ini membawakan kabar bahwa Merphilia adalah gadis yang disebutkan dalam kitab Kahrama. Kitab itu menyebutkan bahwa hanya Merphilia lah yang bisa menghancurkan Ratu Merah yang kejam dan berniat menguasai seluruh Prutopian. Masa lalu Merphilia pun terkuak. Ratu Merah yang harus dibunuhnya ternyata adalah ibu kandungnya yang tak pernah dikenalnya. Merphilia Dunsa pun masuk ke dalam kerajaan Naraniscala, menerima sikap sinis dari beberapa anggota keluarga kerajaan, dan terlibat asmara dengan Pangeran Skandar Ardelazam, anak dari almarhum Maharaja Claresta, sekaligus kakak Merphilia satu ayah lain ibu.

Mungkin semakin seorang penulis bersemangat menuliskan karyanya, semakin nyaman pembaca dibuatnya. Mungkin. Itu karena pada awal-awal membaca novel fantasi lokal, saya selalu merasa kurang mendapat greget di awal dan baru bisa larut ke dalam cerita mulai menjelang pertengahan buku. Termasuk buku ini, sebenarnya saya sudah tergoda untuk menutup buku ini karena tidak bisa mendapatkan greget ceritanya. Saya merasa karena di cover belakang sudah tertulis bahwa Merphilia harus membunuh ibunya, rahasianya sudah ketahuan, jadi hilang gregetnya. Buat saya cerita sebenarnya baru dimulai di halaman 66. Tantangan utama penulis novel fantasi adalah sejak halaman pertama harus bisa membawa pembaca masuk dan MELIHAT sendiri, dunia ajaib ciptaannya. Seolah semua peristiwa ada di depan mata. DUNSA tidak bisa melakukan itu di awal-awal, cuma seperti sedang mendengar seseorang membacakan dongeng untuk saya. Tapi menjelang pertengahan hingga akhir, ketika saya sudah berhasil dibawa masuk ke dalam petualangan di dunia Prutopian (dan sudah berhasil menghafal nama-nama yang panjang dan cukup menyulitkan), malah saya yang gak bisa menaruh buku ini dan berhenti membaca.

Catatan lain saya adalah mengenai karakter. Entah kenapa yang saya suka justru cuma tokoh Alepoya, ketua kaum Wyattenakai, salah satu makhluk ajaib Prutopian.Makhluk ajaib seperti apakah Wyattenakai itu? Baca sendiri ya! Saya tidak suka Merphilia yang rasanya too good to be true, begitu pula karakter Skandar. Novel fantasi menurut saya bisa lebih mempesona apabila tokoh utamanya justru semakin realistis dan manusiawi, karena dengan begitu pembaca pun bisa lebih larut dalam keajaiban dunia fantasi. Saya rasa tidak ada salahnya Vinca membuat karakter utama yang tengil, nyeleneh,dan tidak sempurna karena tokohtokoh itu masih bisa dicintai pembaca. Contohnya saja Ronald Weasley, atau bahkan Harry Potter sendiri. Ohya, saya sebenarnya terganggu dengan romansa yang diperlihatkan antara Merphilia dan Skandar. Belum jadi apa-apa sudah nempeeeelll terus. Hei, padahal kalian kan saudara seayah?? Incest dong? XD Menurut saya, kisah cinta Skandar dan Merphilia seharusnya dibuat lebih mendalam, dengan banyak konflik psikologis, akan lebih menarik dan greget.

Sebagai Potter-freak, kecenderungan saya ketika membaca novel fantasi adalah membandingkannya dengan Harry Potter. Tapi saya akan berusaha objektif. Beberapa bagian memang mengingatkan saya sekilas pada Harry Potter, tapi untunglah, penulis bisa mengembangkannya dengan detil yang berbeda. Beberapa kemiripan yang saya temui itu antara lain: Cara Ratu Veruna mengambil alih kekuasaan, mirip metode Voldemort. Mungkin memang itu metode yang paling realistis (ditinjau dari seni perang ) ya. Kebangkitan Ratu Veruna yang menyimpan jiwanya dari sebuah Danda Merah atas bantuan seseorang (mengingatkan pada Horcrux). Disebutnya Merphilia sebagai satu-satunya yang bisa menghancurkan penguasa lalim juga mengingatkan saya pada ramalan the chosen one. Tapi di sini Vinca sukses memberikan sentuhan yang sangat berbeda dari Horcrux Voldemort dan ramalan Trelawney. Seperti apa? Baca sendiri ya!

Kekuatan dari novel ini, yang memikat buat saya adalah petualangannya. Penulis berhasil membuat saya melihat dan merasakan serunya petualangan demi petualangan Dunsa ketika menghadapi berbagai rintangan. Bahkan salah satu bagian memberikan sensasi yang mirip seperti menonton ketegangan di kapal di film Pirates of the Carribean. Negeri yang memikat saya adalah Delmorania, di sini penulis justru lebih bisa membangun dunia yang ajaib dengan beragam makhluk ajaibnya. Dan disinilah saya bertemu para Wyattenakai yang mempesona itu. :)

Ohya, nilai tambah dari novel ini adalah penulis membuat peta dunia Prutopian. Mengesankan. Ada juga silsilah keluarga istana Naraniscala, namun penggunaan font nya kurang bersahabat dengan mata. Nah, meski saya memberi beberapa catatan, namun diatas segalanya, kesimpulan saya adalah: novel ini bisa jadi novel yang amat potensial, karena imajinasi sang penulis bisa membuat saya keluar dari dunia fantasi tipe JK Rowling dan JRR Tolkien.

Judul: Dunsa

Penulis: Vinca Callista

Penerbit: Atria / November 2011

Tebal: 453 hlm.

My rating: 3,5 of 5 Stars


TAGS atria


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post