18 Seconds

27 Jan 2012

18

Bagaimana akhirnya? Benar-benar pertanyaan bagus. Bagaimana kau bisa melupakan bunyi tanah yang dilemparkan ke kuburmu saat kau dikubur hidup-hidup? Bagaimana kau bisa melupakan rasa tube plastic yang dimasukkan ke mulutmu, pesawat menukik ke bawah, atau kilatan moncong pistol yang ditodongkan tepat ke arahmu? Bisakah kau melupakan kesalahan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang? (hlm. 29-30)

Sherry Moore adalah seorang perempuan cantik yang buta, namun sebagai gantinya dikaruniai kemampuan melihat 18 detik terakhir kehidupan orang yang sudah mati dengan menyentuh kulit jenazah. Ketika ia dewasa, kemampuannya ini membantu kepolisian Philadelphia untuk mengungkapkan beragam kasus yang menemui kebuntuan. Tentunya secara diam-diam, meski sempat juga ia mendapat sorotan media. Kasus terakhir yang dibantu oleh Sherry membuka probabilitas akan kasus kecelakaan di sebuah panti jompo di New Jersey menjadi sebuah kasus pembunuhan. Kemampuan Sherry inilah yang mempertemukannya dengan Letnan OShaughnessy untuk memecahkan kasus itu, yang ternyata mengarah pada kasus pembunuhan berantai (yang semua korbannya adalah perempuan) di New Jersey. Namun tanpa disadari, kedua wanita ini justru menjadi incaran si pembunuh dan terjebak makin dalam di sarangnya.

Premis cerita yang unik dari novel ini membuat saya menandainya sebagai wishlist saya sejak pertama kali membaca sinopsisnya di deretan buku terbaru dari GPU. Kebetulan sudah cukup lama juga tidak membaca novel bergenre thriller, jadi cocok juga dengan mood. Ternyata buku ini tidak mengecewakan meski masih ada beberapa bagian yang sebenarnya saya harapkan bisa dibahas lebih mendalam oleh penulisnya. Tapi yang penting, plotnya juara!

Novel ini ditulis dengan alur maju, namun sentral cerita berpindah-pindah dari Philadelphia ke New Jersey. Penulis mengambil sudut pandang orang ketiga. Tokoh-tokohnya juga sangat banyak, menjadikan pembaca harus jeli mengamati dan mengingat urutan waktu dan tempat yang tertulis di bagian atas tiap bab. Terlepas dari itu, ceritanya sangat bisa dinikmati dan penulis mampu mencekam pembaca sepanjang ceritanya sekaligus mengenal tokoh-tokohnya dari dekat. Sayangnya meski yang dijadikan judul dan sinopsis di cover belakang adalah tentang Sherry Moore, namun buat saya jatah munculnya Sherry kurang banyak, padahal hampir pasti kemampuan istimewa Sherry inilah yang paling menjual kesan pertama novel ini. Hal ini akhirnya membuat saya sendiri lebih merasa dekat dengan Letnan OShaughnessy dibanding dengan Sherry. Saya berharap penulis memasukkan lebih banyak konflik psikologis dalam diri Sherry terkait dengan pekerjaannya juga, selain hubungan sosialnya.

Bicara penokohan, aduh, tokoh penjahatnya benar-benar membuat saya muak sekaligus ngeri. Seorang sosiopat, penjahat masyarakat yang gemar melecehkan wanita. Baru awal tahun sih, tapi sepertinya tokoh ini bisa ditetapkan jadi kandidat untuk daftar tokoh paling dibenci dari buku bacaan 2012. Sedikit rasa kasihan saya juga ada buat tokoh ini, karakter yang tidak mengenal kata cinta. Rasa kasihan saya juga ada untuk Sherry Moore, bukan karena dia buta, tapi karena ia tidak cukup berani untuk membuka dirinya. Banyak ngaca juga sih dari tokoh ini. Tapi karakter yang saya sukai adalah Letnan OShaughnessy yang cerdas, jujur dan sigap, meski tak luput dari melakukan kesalahan juga. Mungkin juga saya menyukai tokoh ini karena penulis sukses mendeskripsikan pemikiran dan kegalauan si letnan dengan begitu membumi, begitu wanita.

Penulis buku ini adalah George D. Shuman, dan mungkin pembaca dibuat terkagum-kagum dengan kemampuannya menuliskan seluk beluk kinerja detektif kepolisian Amerika Serikat dengan cukup detail. Yup, om Shuman ini adalah pensiunan letnan, telah 20 tahun berkecimpung di kepolisian dan pernah juga ditugaskan sebagai detektif selain di berbagai divisi lainnya. Jadi pengetahuannya terbilang kredibel untuk menuliskan kisah seperti ini.

Untuk edisi terbitan Gramedia sendiri terjemahannya bagus, minim typo (namun ada satu yang fatal yaitu di halaman 360, nama Susan keliru ditulis Sherry). Covernya thriller banget, cenderung seram. Penggemar novel thriller, psiko-kriminal, atau cerita detektif sebaiknya tidak melewatkan yang satu ini karena 18 Seconds telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa dan dinominasikan untuk :

- Best First Novel by the International Thrillers Association

- The Shamus Award

Ps. Jangan nyemil ya ketika membaca buku ini, bukan jenis buku yang bisa membuatmu menikmati cemilan soalnya. Hehehe..

Judul: 18 Seconds (18 Detik)

Penulis: George D. Shuman

Penerjemah: Fahmy Yamani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama / Oktober 2011

Tebal: 408 hlm.

My rating: 4 of 5 stars


TAGS GPU


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post