Kuantar ke Gerbang

12 Mar 2012

53a8f825f55b17e7f09401f36f2976a8_kuantar-ke-gerbangTak banyak yang sayaketahui tentang perjuangan Bung Karno, Presiden RI pertama, selain daripada yang dicantumkan dalam diktat sejarah dan beberapa artikel. Tentunya, bacaan saya tersebut sebatas pergerakan kegiatan politik beliau, bukan secara personal. Saya bahkan selalu mengira bahwa wanita hebat yang mendampingi perjuangan panjang Bung Karno adalah ibu Fatmawati seorang, yang namanya saya ketahui dari diktat sejarah karena beliau menjahit bendera pusaka. Namun ternyata, ada sosok lain yang mendampingi Bung Karno sebagai seorang istri, kawan, dan sekaligus ibu selama dua puluh tahun sebelum Bung Karno menikah dengan ibu Fatmawati.

Namanya adalah Inggit Garnasih (17 Februari 1888 13 April 1984). Ibu Inggit mendampingi Bung Karno sepanjang 1923 1942. Semenjak Bung Karno masih berjuang menyelesaikan kuliahnya, hingga ikut dalam pengasingan di Flores dan Bengkulu, menyelamatkan diri dengan berjalan kaki melewati rimba Sumatra, hingga ketika Bung Karno mulai mendapat titik terang dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Ibu Inggit yang bisa membaca, namun tak bisa menulis ini mengabdi melalui peranannya memperlancar hampir semua kegiatan Bung Karno, bahkan menjadi teman bicara. Pendidikannya tidak tinggi, tetapi karena berada di sekeliling orang-orang berpendidikan tinggi dan ahli politik, ibu Inggit menjadi pribadi yang cerdas dan sigap.

Ibu Inggit juga bisa dikatakan sebagai tulang punggung keluarga dalam pernikahannya dengan Bung Karno. Beliau melakukan itu dengan setia dan ikhlas, tanpa setitikpun pamrih. Meskipun perjuangan Bung Karno sukar karena beliau tak mau berjuang lewat bawah tanah. Kesetiaannya dibuktikan dengan kesediaannya mengikut Bung Karno ke pengasingan. Bahkan surat dari kedua mertuanya yang mengizinkannya (bahkan menyarankannya) berpesiar dan tidak menghabiskan masa mudanya dalam pengasingan dijawabnya dengan ikrar kesetiaannya pada suaminya. Termasuk kepercayaannya pada cita-cita suaminya. Dalam hidup ini saya tidak membawa apa-apa. Hanya dibekali dengan iman, dan iman itu tetap saya pegang, semoga untuk selama hidup saya. (hal. 284). Tampak jelas sekali bahwa Bung Karno adalah dunia Ibu Inggit.

Hanya saja ia tak mau dimadu, bahkan jika alasannya adalah karena Bung Karno ingin memiliki keturunan. Namun setelah perceraian mereka, hubungan batin sebagai kawan perjuangan tidak pernah berubah. Ketika Bung Karno mengunjunginya pada 1960 di Bandung, sambil memegang bahu Soekarno, ibu Inggit bahkan berpesan, Kus, Ini baju adalah pemberian dari rakyat. Kus harus ingat dan harus bisa menjaganya, jangan sampai melupakan mereka. (hal. X)

9f6d78f24b80c34265feff2e416836f6_dsc00620

Terima kasih Ibu Inggit. Tanpa jerih lelahmu, mungkin kehidupan saya tidaklah senyaman sekarang. Terima kasih.

Catatan mengenai buku terbitan Bentang Pustaka

Sejatinya, buku ini pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada 1988, dan beberapa kali dicetak ulang, tetapi pada bulan Maret 2011, Bentang Pustaka menerbitkannya kembali. Buku ini juga pernah diadaptasi menjadi Monolog Inggit Garnasih (dibawakan oleh Happy Salma). Kira-kira, Mira Lesmana & Riri Riza atau Hanung berminat memfilmkan nggak, ya? *ngarep*

Sejatinya, buku yang diceritakan berdasarkan pengalaman Ibu Inggit Garnasih ini dimaksudkan pengarang sebagai sebuah roman, namun karena itu bicara tentang kehidupan personal Bung Karno, tentu tak bisa terlepas dari sejarah. Tentunya, sebagai penggemar novel sejarah, cukup sayang bila saya melewatkan sejarah negeri saya sendiri dong.

Apalagi, nilai lebih buku ini terletak pada kekuatan risetnya dan tata kalimat yang memberi kesan syahdu. Sukses membawa saya melihat lebih dekat kehidupan kaum priyayi pada masa sebelum kemerdekaan. Juga, dilengkapi dengan koleksi pribadi foto-foto Ibu Inggit. Foto-foto seperti ini selalu membuat saya teringat pada keluarga almarhum nenek (yang juga dari Blitar), yang cuma saya kenal dari foto. Foto-foto yang serupa, hitam putih, perempuan-perempuan berkebaya tersenyum manis. Yang selalu membuat pikiran saya melayang bertanya-tanya ada cerita apa hingga foto itu bisa dibuat, siapa mereka, dan hal-hal semacam itu. :)

Ohya, seandainya buku ini dicetak ulang, saya berharap Bentang Pustaka tidak mengganti desain sampulnya yang sungguh keren. Tapi mungkin mempertimbangkan koreksi sinopsis di sampul belakang karena, kok sepenangkapan saya dari halaman 254-255, Ibu Inggit bukannya tak bisa baca-tulis, melainkan hanya tak bisa menulis, CMIIW. ;p

Judul: Kuantar ke Gerbang

Penulis: Ramadhan K.H.

Penerbit: Bentang Pustaka / cet. 1: Maret 2011

Tebal: 413 hlm.

My rating: 4 of 5 stars.

Ps. Terima kasih banyak buat om @htanzil yang merelakan bukunya dipinjam begitu lama >.< Tapi buku ini benar-benar layak dikoleksi om, will buy it soon.. :D


TAGS Bentang Pustaka


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post