Icylandar: The Journey

25 Mar 2012

23589cff49b95e0f1aaa3b1feea83c82_313645_214378915286441_1000Setelah saya membaca buku pertama Icylandar: The Elfs Kingdom, yang saya nilai cukup bagus untuk karya fantasi lokal (yang buku pertamanya saja sudah setebal bantal), wajar bila saya mengharapkan buku keduanya lebih bagus dari yang pertama. Review lengkap buku pertama bisa dilihat di link ini. Gak usah banyak basa-basi, lets directly move to the second book then. *reviewnya panjang*

Sinopsis

Kehidupan Padris sebagai elf yang telah diramalkan, sekaligus sebagai putra mahkota Icylandar dipenuhi dengan latihan-latihan yang menyita hampir semua waktunya. Tetapi, Padris tidak memiliki waktu untuk meratapi nasibnya karena tingkah Louie yang menuntut untuk perhatiannya di sisa waktu luangnya. Tak cuma itu, Jenderal Rodrigo memutuskan Padris akan dilatih oleh ayah kandungnya karena ayahnya lah yang menyegel Jaroz Padris dengan sihir kuno ketika ia masih bayi dulu. Itu artinya, Padris akan bertemu kedua orang tua kandungnya. Ditemani oleh Jenderal Rafael dan Jenderal Antolin, Padris menempuh perjalanan menuju rumah orang tuanya, melewati tambang-tambang emas di Icylandar. Tapi pada akhirnya, Padris juga mendapatkan ilmu baru, Ziutzan, di kerajaan Onegara.

Plot

Dari segi plot, menurut saya tidak ada perkembangan yang cukup berarti dari perjalanan kisah Padris, selain sebagai pembaca, saya dibawa lebih mengenal seluk beluk dunia Elf dalam imajinasi Dionvy. TERLALU BANYAK plot yang tidak perlu dan tidak terkait dengan inti cerita yang dimasukkan dalam buku ini. Memasukkan cerita yang tidak terkait dengan inti cerita sama sekali bolehlah jika itu satu atau dua poin saja untuk memperkaya keasikan pembaca. Tetapi buku kedua ini, benar-benar TERLALU BANYAK, sampai-sampai dua atau tiga kali saya merasa lelah membacanya dan terus terang, merasa bahwa sebagai pembeli dan pembaca, saya tidak dihargai dengan selayaknya. Di samping itu, tak jarang pula tambalan perca tersebut lebay, sangat lebay sampai capek membacanya. Jika bagian-bagian tidak penting itu dikurangi, dan inti cerita diperkuat dan diperbanyak, tentunya Icylandar 2 akan jadi buku yang lebih baik.

Salah satu yang cukup membuat saya ternganga adalah ketika Padris bertemu orang tuanya, apa itu reaksi yang tepat dari seorang ibu, ayah, dan anak yang sudah sekian lama sama sekali tidak bertemu maupun berkomunikasi? Juga ketika Padris dkk ketahuan menyelinap diam-diam dan tanpa pengawalan di tempat latihan di dalam gunung, kenapa tidak langsung dibunuh, alih-alih tokoh yang sama berusaha membunuh Padris di depan kedua Jenderal? Ngga masuk akal (Ya! harus tetap ada logika yang kuat dalam kisah fantasi yang hebat). Dan terakhir, yang membuat alasan perjalanan ke Onegara lebih nggak masuk akal lagi adalah karena kedua Jenderal ternyata sudah sangat mahir ilmu ziutsan, bahkan lebih hebat dari jendral Onegara yang diminta melatih Padris. Trus kenapa ngga dilatih sendiri aja, jendral?!?!?

Tidak ada perkembangan (pertumbuhan) karakter dari tokoh-tokohnya meski mereka dikisahkan telah melewati sekian banyak petualangan dan mendapatkan sekian banyak pembelajaran. Banyak karakter yang menye-menye, sampe pingin nampar. Dan, jika dibuat generalisasinya, dari sekian banyak tokoh di Icylandar, banyak sekali tokoh yang karakternya setipe.

Dionvy, you really need to add some more perspective in your next book. Perspektif psikologis dan logika. Novelmu idenya bagus, sayang kalau tidak dieksekusi dengan excellent juga. Ohya, satu lagi, kalau buntu ketika menggarap buku ketiga, saran saya, baca ulang buku pertama dan keduamu, lalu gunakan perca penambal itu untuk mengasah cerita inti dan membangun klimaks, agar pembaca gak sia-sia kecapekan membaca perca penambal yang di akhir buku 1 & 2 belum ada juntrungannya selain jadi tambalan saja.

Editing

Jika pada buku pertama, saya sudah menyebutkan bahwa editingnya kurang, maka di buku kedua tentunya saya juga mengharapkan editing di buku ini lebih baik. Pertama kali membuka sampulnya, yang saya lihat adalah nama editornya. Whoa, total ada lima orang editor untuk buku ini, empat orang tim editor ditambah dengan satu editor utama. Kedengerannya menjanjikan. Tapi kok, yang saya jumpai justru editingnya lebih buruk dibandingkan buku pertama ya? Terasa ada bagian-bagian yang editingnya baik, tapi ada juga yang sebaliknya. Dan terutama, sebenernya saya heran, apakah tim editor ini hanya mengecek kesalahan pengetikan (yang emang minim banget typonya, dari 803 halaman, saya cuma nemu 1 typo), atau mereka juga ikut memberi masukan untuk plot cerita dan tata kalimat?

Untuk saya, Icylandar (baik buku 1 atau 2) memang memiliki gaya penceritaan yang sangat mengalir. Saya merasa, penulisnya seperti sedang memainkan sebuah panggung boneka. Gaya menulisnya itu bercerita lisan, padahal Icylandar adalah sebuah karya tertulis. Itu bagus, dalam beberapa hal, tetapi akan jauh lebih bagus jika pemilihan kata-kata bisa lebih dipikirkan, bukan sekadar mengikuti jemari yang menari di atas keyboard. Writing is re-writing. Beberapa kata ini penggunaannya cukup sering, dan sangat mengganggu saya:

Pekik, jerit, desis, histeris, coba kata-kata itu diganti dengan yang lebih sesuai dengan konteksnya (misalnya: teriak, gumam,bisik, seru, dll.) agar tidak terkesan lebay karena kata-kata itu adalah kata yang kuat. Juga, sering saya jumpai frasa: menjadi + kata sifat + semua, seperti: menjadi merah semua, dll yang tidak pas. Kurasa sebaiknya Dionvy mempekerjakan satu professional-freelance-book-editor agar buku ketiga lebih baik lagi dan lebih bisa diapresiasi sekaligus mengapresiasi pembaca setianya. Cuma masukan sih, diterima boleh, gak diterima ya monggo. Terserah penulis.

Icylandar di Ranah Fantasi Indonesia

Meski di Icylandar 2 saya malah membuat lebih banyak catatan untuk buku ini, namun di luar sana, banyak remaja pembaca Icylandar yang sangat menyukai Icylandar, bahkan berharap buku ini bisa difilmkan. Nah, tentunya itu bukti bahwa Icylandar sebenarnya mempunyai konsep yang bagus, yang tentunya akan mampu memikat lebih banyak lagi pembaca (gak cuma remaja, tapi mungkin juga pembaca dewasa, yang kritis maupun tidak kritis) untuk membaca buku ini jika dieksekusi dengan excellent! Apalagi, desain cover dan ilustrasi di dalamnya sudah sangat-sangat bagus danjadi poin plus tersendiri.

Icylandar mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu pionir yang mengindikasikan bahwa kini, karya fantasi lokal pun mulai mendapat tempat di hati pembaca Indonesia sendiri. Bangga dong, tapi jangan lantas berpuas diri dan lena ya.. harus terus menghasilkan karya yang lebih baik meski harus membuat pembaca menunggu sedikit lebih lama. Menunggu untuk sesuatu yang worth to wait, worth to buy, and worth to read. :)

DItunggu buku ke-3 nya, dan semoga bisa ngasih 4 bintang untuk buku ke-3. Karena bintang bukan cuma menunjukkan penilaian pembaca atas sebuah karya, tapi juga seberapa pembaca merasa uang dan waktu mereka dihargai karena telah memilih karya tersebut. Cheers! :)

Judul: Icylandar: The Journey

Penulis: Dionvy

Penerbit: Pustaka Redemptor / cet. 1 : September 2011

Tebal: 803 hlm.

My rating: 2 of 5 stars.


TAGS pustaka redemptor


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post