Maryam - Tentang Mereka yang Terusir Karena Iman di Negeri yang Penuh Keindahan

3 Apr 2012

7a22b34b6c3e807aab08f9e5be6289f8_425030_10150712107649923_31334154922_11546848_1534304412_nIman. Keyakinan. Kepercayaan. kata-kata tersebut seringkali menjadikan banyak pihak merasa terusik dan menjadi topik yang cukup sensitif bagi beberapa kalangan. Di Indonesia, yang dalam UUD-nya mengakui tentang kebebasan menganut kepercayaan dan beribadah, dan memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika sekalipun, kata-kata itu kerap kali juga membawa kegelisahan. Bukankah seharusnya iman membawa seseorang menjadi manusia yang lebih banyak menghasilkan buah karakter dan sikap yang baik bagi sesamanya dan bagi alamnya? Kerap kali, kata agama, yang berasal dari kata A (tidak) dan Gama (kacau), pada awalnya ada untuk menjadikan kehidupan manusia lebih teratur dan tidak kacau, justru kerap kali menciptakan konflik itu sendiri. Atau mungkin, menjadi kambing hitam, menjadi alat dari pihak-pihak yang berkepentingan untuk mencapai tujuan tertentu. Padahal, secara jumlah, saya percaya ada jauh lebih banyak orang yang menganut agama karena ingin menjadi individu lebih baik, ingin mendapatkan tuntunan, dan ketenangan batin.

Berapa banyak di antara anda yang saat ini menganut kepercayaan karena anda lahir dalam keluarga yang lebih dulu menganut kepercayaan itu? Anda dididik sesuai kepercayaan orang tua anda, dan karena telah terbiasa dengan kehidupan yang dilandaskan pada ajaran tersebut, anda mempercayainya, menganutnya sepenuh hati?

Maryam Hayati, adalah salah satu dari orang-orang yang tumbuh besar dalam kondisi seperti itu. Sedari kecil, ia dan orang tuanya sudah mengikuti kepercayaan yang dianut oleh kakek Maryam. Penduduk kampung Gerupuk, Lombok, pada mulanya tidak pernah mempersoalkan hal tersebut, toh, masih memiliki nama yang sama meski sedikit berbeda. Keluarga Maryam pun hidup di kampungnya dengan tenang, kakek dan ayahnya membangun usaha sebagai pengepul ikan, sehingga warga kampung yang mayoritas adalah nelayan bisa lebih sejahtera. Mereka juga banyak membantu warga kampung, termasuk membangun masjid. Hanya saja, keluarga Maryam tak beribadah sebagaimana warga lainnya, meskipun mereka tak pernah absen ibadah 5 waktu dan bahkan mengadakan pengajian mingguan bersama teman-teman Ahmadi mereka. Lambat laun, ketika kata sesat mulai dicapkan pada mereka, kehidupan Maryam pun mulai bergejolak meski ia masih bisa menahannya hingga ia lulus SMA. Ia lalu kuliah di Surabaya, dan membangun karirnya di Jakarta. Sampai ketika ia bertemu suaminya, yang membuatnya rela meninggalkan segalanya. Termasuk iman dan keluarganya. Namun ketika ia kembali ke kampung halamannya bertahun-tahun kemudian, semuanya telah berubah. Tak dijumpainya orang tuanya di rumah itu, dan terungkaplah cerita panjang bahwa mereka diusir dari kampung tersebut karena dianggap bisa menyesatkan iman warga kampung. Dan Maryam pun mempertanyakan, mengapa di negeri yang penuh keindahan ini, kehidupan mereka harus sedemikian keras karena iman mereka tak sejalan dengan kaum mayoritas dan kaum yang berkuasa?

Dengan narasinya yang kebanyakan berupa kalimat pendek dan sederhana, Okky Madasari menyuguhkan potret kehidupan kaum Ahmadi dan posisi mereka di masyarakat Indonesia melalui perjalanan hidup Maryam. Sewaktu baru membaca buku ini, saya langsung terpikat dengan kisah Maryam. Alurnya bergerak maju mundur dengan kecepatan yang cukup cepat, namun tidak membuat pembaca kurang terlibat emosinya. Saya memang tidak banyak mengetahui tentang kaum Ahmadi selain dari sumber ini, dan berita di media. Tulisan ini pun tidak dimaksudkan menyoal SARA, melainkan lebih ke arah humanisme terlepas dari keyakinan apapun yang dianut oleh seseorang. Apakah karena iman lalu seseorang harus kehilangan hak nya untuk memiliki materi, berkarya, dan mengenyam pendidikan? Apakah karena iman lalu seseorang harus kehilangan hak untuk menjalani kehidupan layaknya manusia? Apakah yang membuat orang itu kehilangan hak-hak nya tersebut sudah yakin bahwa diri mereka memberikan buah yang lebih baik dalam kehidupan? Apakah kelak di pengadilan Tuhan, mereka siap mempertanggung jawabkan segala yang telah di buatnya terhadap manusia-manusia ini? bagaimana bila kelak hal serupa terjadi pada diri mereka atau anak cucu mereka? Apakah masih ada yang bisa diharapkan dari negeri yang bahkan tidak bersedia memberikan pembelaan dan perlindungan yang layak pada rakyatnya? Dan terakhir, apakah dalam nurani kita sebagai manusia, kita masih menganggap saudara satu spesies kita yang berbeda keyakinan dengan kita itu juga manusia?

Tentang Penulis

Okky Madasari adalah penulis novel Entrok dan 86. Novel 86 yang mengangkat tema korupsi berhasil masuk dalam 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2011. Alumni jurusan Hubungan Internasional UGM ini juga menulis lagu, dan dalam buku Maryam ini disertakan sebuah CD yang berisi lagu-lagu yang ditulisnya. Lagu favorit saya adalah Pulang. Ohya, dan Mbak Okky ini juga kakak kelas saya semasa SMP dan SMA ternyata :) Saya suka gaya tulisan dan tema-tema karyanya dan sudah diputuskan akan membeli dua novel karyanya yang lain.

Judul: Maryam

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama / cet. 1 : Februari 2012

Tebal: 275 hlm.

(Bonus CD berisi 9 lagu karya Okky & Friends)

My rating: 4 of 5 stars


TAGS GPU


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post