City of Thieves

10 Apr 2012

37f8d1bd79c75747ee6b6e15eeb04efb_cotPertama kali kepengen beli buku ini karena jatuh cinta sama covernya, selain karena sinopsisnya yang sedikit aneh. Masa sih orang harus mempertaruhkan nyawanya atas tugas mendapatkan satu lusin telur? Iya, telur yang wajib ada di rumah, yang biasa kita buat lauk kalo sewaktu-waktu kehabisan stok makanan itu. Gimana tuh petualangannya, masa tugas mendapatkan telur aja bisa setebal ini bukunya, kira-kira petualangannya seseru apa ya? Setelah selesai membacanya saat ini, ternyata saya mendapatkan lebih dari sekadar petualangan dua tokoh utama cerita ini. David Benioff membawa saya mengenal sebuah kota di masa lampau, sekeping sejarah yang belum pernah saya dengar sebelum membaca buku ini, dan membuat saya mengetahui sebuah catatan penting dalam sepak terjang NAZI.

Bersetting di kota Leningrad, suatu masa antara tahun 1941-1944, David mengajak pembaca menyaksikan pertemuan Lev dan Kolya di penjara Kresty. Lev dijebloskan dalam penjara mengerikan itu karena ia menjarah barang dari mayat seorang tentara Jerman. Kolya, pemuda aria berwajah tampan dan anggota pasukan Rusia, dijebloskan atas tuduhan desertir. Dua napi muda ini mendapatkan keajaiban dari sang Kolonel. Mereka tidak akan ditembak mati dengan syarat mereka harus membawakan selusin telur dengan selamat untuk sang Kolonel dalam waktu yang telah ditentukan. Selanjutnya, pembaca akan dibawa mengikuti petualangan Lev dan Kolya yang penuh kejutan dan sulit ditebak.

Untuk pembaca yang tidak familiar dengan sejarah Rusia, mungkin novel ini terkesan sebagai cerita dongeng petualangan yang aneh. Tapi sebenarnya, kota Leningrad benar-benar pernah ada. Leningrad adalah nama lain dari kota St. Petersburg sebelum akhirnya diubah pada tahun 1991. Tugas Lev dan Kolya tampaknya sangat mudah, namun pada masa cerita ini terjadi, Leningrad sedang berada pada masa pengepungan yang paling besar dan berdarah sepanjang sejarah. Singkatnya, Leningrad dikepung oleh tentara Jerman selama 900 hari (8 September 1941- 8 Januari 1944) dan semua supply ransum ke kota ini dihentikan agar kelaparan membawa penduduknya takluk pada Jerman. Namun di luar perkiraan NAZI, warga Leningrad justru memilih mengungsi atau berjuang mempertahankan kotanya meski dengan perut kosong. Meski pada musim dingin pertama jatuh ratusan ribu korban karena kelaparan, warga menolak menyerah sekalipun beberapa di antara mereka terpaksa menjadi kanibal. Lem penjilid buku-buku dijadikan permen untuk memberikan protein pada tubuh, dan dijual dengan harga sangat mahal. Dalam kondisi inilah Lev dan Kolya diutus mencari dan membawa selusin telur dengan selamat ke tangan Kolonel, jadi tugas itu bukanlah tugas yang mudah. Tugas ini bahkan membawa mereka bertemu kaum Partisan dan terlibat dalam rencana pembunuhan Kolonel Jerman.

Meski situasi mencekam bisa digambarkan dengan sangat baik oleh David Benioff, namun situasi ini tidaklah membuat pembaca tegang atau merasa cerita membosankan.Saya menyelesaikan buku ini dalam 4 hari saja. Ini dikarenakan David Benioff memasukkan dua karakter yang sangat unik dan kontras sebagai tokoh utamanya. Lev adalah pemuda yahudi yang canggung, tidak pede karena hidungnya yang besar dan nyalinya yang kecil (termasuk dalam urusan cewek), sementara Kolya adalah pemuda tampan yang percaya dirinya sedikit berlebihan, seorang maniak seks yang pandai bicara dan berkali-kali mengingatkan pembaca bahwa ia sudah berhari-hari tidak buang air besar. Dengan dua tokoh utama seperti ini, pembicaraan-pembicaraan mereka yang seputar kehidupan pemuda menjelang dewasa jadi tidak terkesan porno, tapi konyol. Saya kurang tau budaya Rusia, khususnya pada masa-masa ini, namun humor Lev dan Kolya ini buat saya terasa amerika banget, mungkin karena penulisnya orang Amerika. Tapi harus diakui, ini malah jadi nilai plus buku ini karena bagaimanapun buku ini berhasil memecahkan rekor bacaan saya sebagai novel historical paling sinting yang pernah saya baca. :))

Pada kenyataannya, Leningrad adalah kota pertama di Rusia yang digelari Kota Pahlawan karena ketangguhan warganya menolak menyerah dalam pengepungan ini. Setelah dikepung selama 900 hari, Jerman menyerah kalah. Hitler tidak pernah bisa mengadakan pesta kemenangan di kota ini, meski memang telah banyak sekali korbannya. Lebih lanjut tentang pengepungan Leningrad bisa dibaca di link ini.

Dalam buku City of Thieves, David Benioff mengajak pembaca mengenal sejarah peristiwa heroik ini dengan cerita yang agak sableng, namun buat saya dia juga sama sekali tidak kehilangan tension dan makna perjuangannya sendiri. Mungkin ini karena David juga sebelumnya telah berpengalaman mengadaptasikan The Kite Runner dari novel menjadi sebuah film, dan juga menulis skenario untuk film X-Men: Wolverine. Dua-duanya film kesukaan saya juga sih. :)

Paling setuju sama endorsement ini:

Dengan humor yang apa adanya, penghormatan terhadap penderitaan masa perang, dan dialog yang mengungguli cerita-cerita tentang peralihan seorang pemuda menuju laki-laki dewasa, tanpa menjadi sebuah cerita yang kasar, novel kedua karya David Benioff ini layak mendapat posisi utama di perpustakaan. Buku ini akan menarik para pembaca tua dan muda untuk menikmati halaman-halamannya yang memikat. Library Journal

Judul: City of Thieves (Kota Para Pencuri)

Penulis: David Benioff

Penerjemah: Meda Satrio

Penerbit: Ufuk Press / cet. I: Agustus 2010

Tebal: 489 hlm

My rating 4 of 5 stars


TAGS Ufuk


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post